Pages

Dec 19, 2010

Pioner XL dalam hal Jaringan Telekomunikasi

Part one and the and.

Stabilitas teknologi dalam bidang telekomunikasi sangatlah konsisten untuk Negeri Pertiwi ini. Salah satu bukti nyata dengan terbitnya operator-operator baru untuk turut bersaing merebut pelanggan (customer) yang ada. Namun hal itu masih terbilang minimalis di banding operator senior yang tentunya lebih berpengalaman dalam banyak hal. Tidak dapat dipungkiri, sesuatu yang lebih bijak tentu mendapat respon yang layak, seperti halnya tentang Jaringan (Signal) yang pastinya juga menjadi perhatian masyarakat pinggiran (umumnya) dan masyarakat di pelosok-pelosok negeri seperti di pegunungan, daerah terpencil, kampung mati, hutan, dan sejenisnya untuk lebih fokus dan di khususkan akan tembusnya jaringan telekomunikasi tersebut. Untung ruginya operator terlihat dari selarasnya 'traffic' hingga titik tumpu respon masyarakat di daerah pelosok tersebut. Bagaimana mungkin..!!! Untuk dijangkau kendaraan roda dua saja minta ampun, apalagi roda empat/lebih..!!! Membuat tower jaringan tidak murah lho, bisa berbunyi "M"..!!! Apa mungkin orang awam &

tidak berintelek bisa menerima..!!! Hmmz.. 3 faktor hal yang tidak mungkin tersebut dapat menjadi toleran bagi suatu tindakan operator. Merubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin adalah suatu pencetusan hebat, tetaplah konkrit untuk merubah dan mempermudah jaringan telekomunikasi di daerah pelosok Negeri tersebut, tetaplah berkata; "hal ini sulit namun kita pasti bisa" (pasti terwujud), dan buanglah jauh-jauh kata "kita bisa tapi hal ini sulit" (belum tentu tercapai). dan saat ini, masih banyak daerah pelosok Negeri yang masih minus dalam jaringan komunikasi baik itu operator senior maupun yang baru lahir. Seperti di daerah Madur bagian timur daya, 1 operator pun tidak dapat menembusnya, hal itu pernah saya buktikan sendiri pada awal tahun 2009 lalu, waktu itu saya menjalankan PKL selama 6 bulan, apalah daya, berbagai operator berbeda telah saya coba (kecuali CDMA seperti sm*rt dan fr*n) namun tetap tidak bisa bernafas dengan signalnya, sempet berpikir kalau kampung itu ibarat kuburan tua yang tak lagi datang kuburan baru singgahinya, buat beli rokok saja masih menembus medan semak belukar yang sesekali terlintas ular di tengah jalan setapak itu, yaa kurang lebih 3 km untuk bertemu dengan warung gubuk kecil. Menderita pasti, Apapun itu, saya tidak boleh nyerah atas masa depan saya nanti. Menyesal pun tentu, karena sesuatu yang sangat saya butuhkan adalah komunikasi dengan keluarga dan kerabat di kota sana, setiap pulang ke rumahlah hal yang paling menyenangkan, dalam 1 bulan hanya bisa melepas gerilya di rumah selama 3-4 hari. Aah, apapun itu di dalam hati kecil dan saraf otak saya tetap terbesit kata-kata, sesuatu yang indah dan menyenangkan pasti akan datang pada waktunya. 2 hal tersebut yang menjadi faktor penunjang adalah jaringan telekomunikasi. Peduli dalam hal perkembangan Bangsa di daerah pelosok adalah lebih mulia di banding lebih peduli dengan keadaan cukup layak di daerah pinggiran. Mungkin sebagai pandangan, kita pernah nonton "Laskar Pelangi" kan..??? Pendidikan dan faktor ekonomi di film itu sangatlah minim, naah, yang saya alami tersebut lebih drastis dari pada film tersebut.